Mental Health di Masa Pandemi. Apa Kabar?

Mental health atau disebut dengan kesehatan mental merupakan tingkatan kesejahteraan psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa. Menurut WHO, kesehatan mental didefinisikan sebagai keadaan yang baik dimana individu menyadari potensi diri mereka yang sebenarnya, bisa coping dengan stres normal dari hidup, bisa bekerja dengan produktif dan mampu memberi kontribusi pada lingkungannya. Kesehatan mental ini dibagi menjadi tiga kategori dilansir dari wikipedia, yaitu kondisi sehat, gangguan kecemasan, stress, dan depresi. Kesehatan mental ini sangat penting untuk diketahui bagi masyarakat khususnya generasi z. 

Dengan mengetahui dan kesehatan mental, kita bisa mengetahui dan mengendalikan mental kita dengan perlahan dengan bantuan dari psikolog atau psikiater. Jika seseorang tidak mengetahui kesehatan mental dan tidak bisa mengendalikan mental kita, maka seseorang tersebut bisa berada dalam keadaan bahaya. 



Berdasarkan data yang diperoleh dari Kemenkes RI dapat dilihat perbedaan angka pengidap gangguan mental dari tahun 2013 sampai tahun 2018 mengalami peningkatan. hal ini berkaitan erat dengan zaman yang mengalami perubahan dinamis. Karena perubahan dinamis inilah yang menuntut generasi Z untuk selalu beradaptasi dengan lingkungan yang cenderung mudah berubah. Lingkungan tersebut yang membuat generasi Z rentan akan terkena gangguan mental.  Penelitian yang dilakukan APA melibatkan wawancara dengan 3500 terwawancara berusia 18 tahun keatas, dan 300 terwawancara dari usia 15 sampai 17 tahun. Menurut penelitian APA, diperoleh hasil bahwa sebanyak 91% generasi Z mempunyai gejala-gejala emosional maupun fisik yang berkaitan dengan stres, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Stres adalah faktor terbesar penyebab buruknya kesehatan mental generasi Z.




Ditambah lagi generasi Z yang lahir di zaman digital, informasi tanpa batas dan adanya teknologi yang serba cepat membuat generasi Z memiliki dampak baik positif maupun negatif. Dampak negatif inilah yang harus kita meminimalisir agar tidak terjadi hal-hal yang dapat membahayakan pengidapnya maupun orang sekitar.


Sebuah survey menyebutkan tentang penggunaan media dilakukan kepada 2000 orang generasi Z usia 8-18 tahun. The Rideout, Foehr, and Roberts untuk Kaiser Family Foundation (2010) melaporkan bahwa dalam sehari, generasi Z menghabiskan hampir 8 jam untuk beraktivitas dengan perangkat multimedia elektronik. Berdasarkan survey tersebut kita dapat mengetahui bahwa generasi Z ini sangat erat kaitannya dalam penggunaan elektronik. Dalam hal ini, akan memberikan dampak yang cukup serius apabila tidak ditata dan diatur dengan baik penggunaan media elektronik.



Apalagi situasi pandemi yang menuntut kita untuk tetap di rumah. Dalam hal ini menyebabkan generasi Z lebih meluangkan waktunya untuk menggunakan media elektronik, seperti smartphone, laptop, dll. Durasi penggunaan dalam elektronik akan meningkat secara signifikan. Dan mereka menggunakan media itu untuk berkomunikasi dengan teman-temannya di media sosial. Belum lagi di media sosial ada hal-hal buruk yang dapat meningkatkan tekanan jiwa mereka, misalnya, rasa frustasi, bosan, kesal, dll.





Hal tersebut diperkuat dengan penelitian berjudul "A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental Health in Indonesia" menganalisis variabel instrumental data dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2014. Data itu didapat dengan menyurvei 22.423 orang yang berusia 20 tahun ke atas di 9987 rumah tangga dan 297 kabupaten di Indonesia. Hasilnya, penelitian ini menyimpulkan penggunaan medsos yang berlebihan berbahaya bagi kesehatan mental karena dapat menyebabkan depresi. Peningkatan penggunaan media sosial dikaitkan dengan peningkatan skor CES-D atau skala depresi pada seseorang sebesar 9 persen.


Setelah tadi dipaparkan tentang data statistik di Indonesia mengenai generasi Z yang memiliki masalah dalam kesehatan mental yang meningkat dari tahun 2013 sampai 2018. Dan juga tidak luput dari perubahan lingkungan yang dituntut untuk selalu beradaptasi dengan lingkungan. Ditambah lagi generasi Z lahir di era informasi yang serba cepat dan tak terbatas, membuat mereka semakin tertekan karena banyak sekali informasi yang ingin mereka ketahui. Oleh karena itu, durasi penggunaan media elektronik juga akan semakin meningkat dan juga tadi telah disebutkan oleh peneliti, yaitu The Rideout, Foehr, and Roberts untuk Kaiser Family Foundation (2010). Apalagi di masa pandemi ini, penggunaan media elektronik jadi meningkat, salah satunya penggunaan gawai. Karena manusia merupakan makhluk sosial. Jadi, manusia tidak akan luput dari hal-hal berbau sosial, misalnya media sosial. Menurut penelitian berjudul "A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental Health in Indonesia" mengungkap bahwa penggunaan sosial media yang berlebihan akan berbahaya bagi kesehatan mental.


Kesimpulan yang bisa saya ambil, yaitu penggunaan media elektronik khususnya sosial media menjadi meningkat karena adanya pandemi ini. Karena hal itulah kita harus bijak dalam menggunakan media elektronik tersebut dan agar terhindar dari tekanan-tekanan dan gangguan mental, serta memahami tentang kesehatan mental.




Komentar

Postingan Populer